PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA TERLENGKAP

 PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA



                                              PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA
            Pancasila memiliki bermacam-macam fungsi dan kedudukan, antara lain sebagai dasar negara, pandangan hidup bangsa, ideologi negara, jiwa, dan kepribadian bangsa. Pancasila juga sangat erat akan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan.  Oleh karena itu Pancasila sebagai normatif dapat dijadikan sebagai  suatu acuan atas tindakan baik dan secara filosofis dpat dijadikan perspektif kajian atas nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat.

A.PENGERTIAN ETIKA
1.       Menurut Etimologis Etika berasal dari bahasa Yunani, Ethos yang artinya watak kesusilaan                      atau adat.Isilah ini identik dengan kata moral yang berasal dari bahasa latin, Mos yang jamaknya Mores yang juga berarti adat atau cara hidup.
2.       Menurut Zubair (1987) Moral atau Moralitas digunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika digunakan digunakan untuk mengkaji sistem nilai yang ada.
3.       Menurut Zakky (2008) Etika  berasal dari bahasa arab yang artinya akhlak yang merupakan kata jamak khuluk yang berarti perangai, tingkah laku atau tabiat.

B.ALIRAN – ALIRAN BESAR ETIKA
Ada 3 teori atau aliran tentang kajian Etika yaitu:
1.       Etika Deontologi
Dikemukakan oleh  Immanuel Kant yang memandang bahwa tindakan dinilai baik atau buruknya berdasarkan tindakan sesuai atau tidak dengan kewajiban. Kebaikan adalah  melaksanakan sesuai dengan kewajiban. Sedangkan Menurut Kuswanjono (2008) Etika Deontologi menekankan bahwa kebijakan atau tindakan harus didasari oleh motivasi dan kemauan baik dari dalam diri, tanpa mengharapkan pamrih apapun dari tindakan yang dilakukan. Ukuran kebaikan dalam etika ini adalah kewajiban, kemauan baik, kerja keras dan otonomi bebas.

2.       Etika Teleologi
        Etika teleologi dibagi batas 2 yaitu;
a.       Egoisme Etis memandang bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang  berakibat baik untuk pelakunya. Secara moral setiap orang dibenarkan mengejar kebaikan untuk dirinya dan dianggap salah atau buruk apabila membiarkan dirinya sengsara dan dirugikan.
b.      Utilitarianisme menilai bahwa baik buruknya suatu perbuatan tergantung bagaimana akibatnya terhadap banyak orang. Tindakan dikatakan baik apabila mendatangkan manfaat yang besar dan memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin orang. Menurut Wenz (2001) etika ini lebih bersifat realistis, terbuka terhadap berm alternatif tindakan dan berorientasi pada kemanfaatan yang besar dan yag menguntungkan banyak orang. Adapun kelemahan etika Utilitarianisme menurut SONNY KERAF (2002) yaitu;
·         Karena alasan kemanfaatan untuk orang banyak, berarti akan ada sebagian masyarakat yang dirugikan, dan itu dibenarkan. Dengan demikian utilitarianisme membenarkan adanya ketidak adilan terutama terhadap minoritas.
·         Dalam kenyataan praktis, masyarakat lebih melihat kemanfaatan itu dari sisi yang kuantitas materialistis, kurang memperhitungkan manfaat yang non material seperti kasih sayang, nama baik, hak dan lain-lain.
·         Karena kemanfaatan yang banyak diharapkan dari segi material yang tentu terkait dengan masalah ekonomi maka nasionalisme, martabat bangsa akan terabaikan.
·         Kemanfaatan yang dipandang oleh etika utiltarianisme sering dilihat dalam jangka pendek, tidak melihat akibat jangka panjang.
·         Karena etika ultiltarianisme tidak menganggap penting nilai dan norma, tapi lebih pada orientasi hasil, maka tindakan yang melanggar nilai dan norma atas nama kemanfaatan yang besar.
·         Mengalami kesulitan menentukan mana yang lebih baik diutamakan kemanfaatan yang besar namun dirasakan oleh sedikit masyarakat atau kemanfaatan yang lebih banyak dirasakan banyak orang meskipun kemanfaatanya kecil.
3.       Etika Keutamaan.
        Etika ini tidak mendasar pada akibat suatu tindakan, penilaian moral pada kewajiban terhadap hukum moral universal, teapi pada pengembangan karakter moral pada diri setiap orang.
       Kelemahan Etika ini adalah ketika terjadi dalam masyarakat yang majemuk, maka tokoh yang dijadikan juga beragam sehingga konsep keutamaan menjadi sangat beragam pula, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan benturan sosial.
        Cara mengatasinya dengan mengarahkan keteladanan tidak pada figur tokoh,tetapi pada perbuatan baik yand dilakukan oleh toko itu sendiri, sehingga akan ditemukan prinsip- prinsip umum tentang karakter yang bermoral itu seperti apa.
4.       Etika Pancasila.
        Etika pancasila adalah Etika yang mendasarkan penilaian baik dan buruk pada nilai-nilai pancasila yaitu nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan. Memiliki nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila, maka pancasila dapat menjadi sistem etika yang sangat kuat, nilai-nilai yang ada tidak hanya bersifat mendasar namun juga realistis dan aplikatif.
       Contoh Nilai ketuhanan akan menghasilkan nilai spritualitas, ketaatan, dan toleransi. Nilai kemanusiaan menghasilkan nilai kesusilaan, tolong menolong, penghargaan, kerjasama dan lain-lain. Nilai persatuan menghasilkan nilai cinta tanah air, pengorbanan dan lain-lain. Nilai kerakyatan menghasilkan nilai menghargai pe  rbedaan, kesetaraan dan lain-lain. Nilai Keadilan menghasilkan nilai kepedulian, kesejajaran ekonomi, kemajuan bersama dan lain-lain.
C.PANCASILA SEBAGAI SOLUSI PERSOALAN BANGSA DAN NEGARA.
                       Salah satu contoh peran  pancasiia dalam krisis multidimensional  yang melanda indonesia, dimana peran moralitas merupakan kunci utama, sebagai dasar, warna, sekaligus penentu arah tindakan suatu bangsa. Moralitas dibagi menjadi 3 yaitu;
1.       Moralitas individu, Merupakan kesadaran tentang prinsip baik yang bersifat kedalam,tertanam dalam diri manusia yang akan mempengaruhi cara berfikir dan bertindak. Moralitas individu yang baik akan muncul dalam sikap dan perilaku seperti sopan, rendah diri, tidak suka menyakiti hati orang lain, toleran, suka menolong dan lain-lain. Moralitas ini muncul dari dalam bukan karena dipaksa dari luar.
2.       Moralitas sosial , Merupakan moralitas individu dalam melihat kenyataan sosial. Bisa jadi seorang yang moral individunya baik tapi moral sosialnya kurang, terlihat pada saat berinteraksi dengan masyarakat yang majemuk.Sikap toleran hanya ditunjukkan kepada orang diluar kelompoknya, namun tidak toleran kepada orang diluar kelompoknya. Sehingga dapat dikatakan bahwa moral sosial tidak cukup sebagai kumpulan dari moralitas individu, namun sesungguhnya lebih pada bagaimana individu melihat orang lain sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat kemanusiaan yang sama.
               Moralitas individu dan sosial memiliki hubungan yang sangat erat, Moralitas individu dapat dipengaruhi moralitas sosial,demikian pula sebaliknya.Seseorang yang moralitas individunya baik ketika hidup dilingkungan masyarakat yang bermoral buruk dapat terpengaruh kepada amoral.hal ini biasa terjadi dilingkungan pekerjaan.
              Moralitas saat ini sangat mahal karena semakin kurang orang yang betul-betul memegang moralitas. Namun dapat juga dikatakan barng murah karena banyak orang yang menggadaikan moralitas hanya dengan beberapa lembar uang. Hal ini terlihat pada adnya kasus korupsi yang terjadi diIndonesia, oleh karena ituharus diselesaikan dengan pendekatan eksternal (hukum, budaya dan watak masyarakat) dan pendekatan internal (pendidikan dan kebiasaan).
             Korupsi terjadi karena kurang memahami, kurang meghayati, dan kurang mengamalkan sila-sila pancasila serta kurang menyadari jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Keinginan mendapatkan kekayaan dan kedudukan secara cepat menjadikannya nilai-nilai agama dikesampingkan. Namun sebagai makhluk ciptaaan Tuhan yang paling sempurna tentu tidak akan merendahkan dirinya diperhamba oleh harta, namun akan menyerahkan diri sebagai hamba Tuhan. Buah dari pemahaman dan penghayatan nilai ketuhanan ini adalah kerelaan untuk diatur Tuhan, melakukan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang.
             Pemahamansatu nilai tentunya tidak cukup dan memang tidak bisa dalam konteks pancasila karena nilai-nilai pancasila merupakan kesatuan organik yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, sehingga akan menjadi kekuatan moral besar jika nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan dijadikan landasan moril dan diejawantahkan dalam seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam pemberantasan korupsi.
            Penanaman nilai pancasila melalui pendidikan formal formal disekolah dan pendidikan nonformal dimasyarakat serta pendidikan informal dikeluarga serta media sangat penting karena memiliki daya jangkau dan daya pengaruh yang sangat kuat bagi masyarakat sehingga dapat membangun karakter masyarakat yang maju namun tetap berkepribadian Indonesia.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar