CONTOH MAKALAH AL-QUR'AN DAN HADIS SEBAGAI PEDOMAN HIDUPKU TERLENGKAP

MAKALAH
AL-QUR’AN DAN HADIS 
SEBAGAI PEDOMAN HIDUPKU



                                        

  KATA PENGANTAR

       Salah satu misi utama (innama) Nabi Muhammad SAW diutus adalah untuk menyempurnakan keluhuran akhlak. Ini dibuktikan bahwa di dalam al-Qur’an ini digunakan struktur gramatikal yang menunjukkan sifat eksklusif misi pengutusan Nabi. Dalam struktur ajaran Islam, pendidikan akhlak adalah yang terpenting. Penguatan akidah adalah dasar. Sementara, ibadah adalah sarana, sedangkan tujuan akhirnya adalah pengembangan akhlak mulia. Nabi saw. bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” Nabi saw. juga bersabda, “Orang yang paling baik Islamnya adalah yang paling baik akhlaknya.” Dengan kata lain, hanya akhlak mulia yang dipenuhi dengan sifat kasih sayang sajalah yang bisa menjadi bukti kekuatan akidah dan kebaikan ibadah.
       Maka dari itu kami membuat makalah ini yang bertujuan selain untuk memenuhi tugas “PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI” yang diberikan kepada kami, juga bertujuan agar para siswa (para pembaca) khususnya kami sebagai penulis mampu mengembangkan akhlak mulia melalui penerapan Al-Qur’an dan Hadis. Adapun judul makalah kami ini adalah “AL-QUR’AN DAN HADIS SEBAGAI PEDOMAN HIDUPKU”
       Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu kami mengharapkan segala saran dan kritik yang konstruktif dan inspiratif dari semua pihak sehingga dapat menambah wawasan dan sebagai evaluasi diri dalam penyusunan makalah selanjutnya.

BAB I 
PENDAHULUAN
                                   
A.    Latar Belakang
       Jika dianalogikan kehidupan kita sebagai manusia ibarat ‘seorang pengembara’ yang hidup di “hutan belantara yang amat luas”. Seandainya saja tidak ada utusan yang membawa petunjuk, tentulah kita akan tersesat dan kebingungan dalam mengarungi hidup ini. Sebagaimana mereka yang tidak beriman seperti kaum materialis, ateis, dan hedonis yang hidup dalam kesesatan. Maka, bersyukurlah kita yang mendapatkan petunjuk dari utusan Allah Swt. yaitu Muhammad saw. yang menyampaikan kabar gembira, memberi peringatan, dan menerangkan hakikat penciptaan kita di dunia. Bersama beliau, diturunkanlah al-Qur’ānsebagai pedoman hidup. Namun demikian, masih banyak orang-orang yang mengaku beriman tetapi belum menjadikan al-Qur’ān dan hadis sebagai pedoman hidupnya. Banyaknya pelanggaran terhadap hukum Islam, seperti: pencurian, perampokan, korupsi, perzinaan, dan kemaksiatan lainnya merupakan bukti nyata dari hal tersebut.

B.    Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kedudukan Al-Qur’an, Hadis, dan Ijtihad sebagai sumber hukum Islam?
2.      Bagaimana cara menjalankan Al-Qur’an, Hadis, dan Ijtihad sebagai pedoman hidup?

C.     Tujuan
1.      Untuk lebih memahami/mendalami Al-Qur’an, Hadis, dan Ijtihad sebagai sumber hukum Islam yang sebenar-benarnya.
2.      Untuk dapat menerapkan perilaku mulia dalam kehudupan sehari-hari melalui Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman hidup.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Memahami Al-Qurān, Hadis, dan Ijtihād sebagai Sumber Hukum Islam
       Sumber hukum Islam merupakan suatu rujukan, landasan, atau dasar yang utama dalam pengambilan hukum Islam. Ia menjadi pokok ajaran Islam sehingga segala sesuatu haruslah bersumber atau berpatokan kepadanya. Ia menjadi pangkal dan tempat kembalinya segala sesuatu. Ia juga menjadi pusat tempat mengalirnya sesuatu. Oleh karena itu, sebagai sumber yang baik dan sempurna, hendaklah ia memiliki sifat dinamis, benar, dan mutlak. Dinamis maksudnya adalah al-Qur’ān dapat berlaku di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Benar artinya al-Qur’ān mengandung kebenaran yang dibuktikan dengan fakta dan kejadian yang sebenarnya. Mutlak artinya al-Qur’ān tidak diragukan lagi kebenarannya serta tidak akan terbantahkan.
       Ada tiga sumber hukum dalam Islam, yakni :
1.     Al-Qur’ānul Karim
Pengertian al-Qur’ān
              Dari segi bahasa, al-Qur’ān berasal dari kata qara’a – yaqra’u – qirā’atan –  qur’ānan, yang berarti sesuatu yang dibaca atau bacaan. Dari segi istilah, al-Qur’ān adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dalam bahasa Arab, yang sampai kepada kita secara mutawattir, ditulis dalammushaf, dimulai dengan surah al-Fātihah dan diakhiri dengan surah an-Nās, membacanya berfungsi sebagai ibadah, sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw. dan sebagai hidayah atau petunjuk bagi umat manusia. Allah berfirman dalam surah Al-Isra ayat 9 yang berbunyi :
Artinya: “Sungguh, al-Qur’ān ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.” (Q.S. al-Isrā/17:9)

Kedudukan al-Qur’ān sebagai sumber hukum Islam
       Sebagai sumber hukum Islam, al-Qur’ān memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Ia merupakan sumber utama dan pertama sehingga semua persoalan harus merujuk dan berpedoman kepadanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam al-Qur’ān:
       Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah Swt. (al-Qur’ān) dan Rasu-Nyal (sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. an-Nisā’/4:59)

Dalam ayat lainnya pula dijelaskan : 
       Artinya: “Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (al-Qur’ān) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat.” (Q.S. an-Nisā’/4:105)

       Berdasarkan dua ayat di atas, telah dijelaskan bahwa al-Qur’ān adalah kitab yang berisi sebagai petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. Al-Qur’ān sumber dari segala sumber hukum baik dalam konteks kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Namun demikian, hukum-hukum yang terdapat dalam Kitab Suci al-Qur’ān ada yang bersifat rinci dan sangat jelas maksudnya, dan ada yang masih bersifat umum dan perlu pemahaman mendalam untuk memahaminya.

Kandungan hukum dalam al-Qur’ān
       Para ulama mengelompokkan hukum dalam al-Qur’ān menjadi tiga bagian, yaitu:
Ø  Akidah atau Keimanan
       Akidah atau keimanan adalah keyakinan yang tertancap kuat di dalam hati. Akidah terkait dengan keimanan terhadap hal-hal yang gaib yang  terangkum dalam rukun iman (arkānu imān), yaitu iman kepada Allah Swt.  malaikat, kitab suci, para rasul, hari kiamat, dan qada/qadar Allah Swt.
Ø  Syari’ah atau Ibadah
       Hukum ini mengatur tentang tata cara ibadah baik yang berhubungan langsung dengan al-Khāliq (Pencipta) yaitu Allah Swt. yang disebut dengan ‘ibadah mahdah, maupun yang berhubungan dengan sesama makhluknya yang disebut dengan ibadah gairu mahdah. Ilmu yang mempelajari tata cara ibadah dinamakan ilmu fikih.
1.      Hukum Ibadah
       Hukum ini mengatur bagaimana ibadah seharusnya sesuai dengan ajaran Islam. Hukum ini mengandung perintah untuk mengerjakan salat, haji, zakat, dan lain sebadainya.
2.      Hukum Mu’amanah
       Hukum ini mengatur interksi antar sesama manusia. Seperti hukum tata cara jual-beli, hukum pidana, hukum perdata, hukum warisan, pernikahan, politik, dan lain sebagainya.
Ø  Ahklak dan Budi Pekerti
       Selain dua hukum diatas, al-Qur’ān juga menuntut bagaimana seharusnya manusia berahklak atau berperilaku mulia, baik ahklak kepada Allah Swt., sesame manusia, ataupun mahkluk Allah Swt. yang lain. Hukum ini tercermin dalam konsep perbuatan manusia yang tampak, mulai dari gerakan mulut (ucapan), tangan, dan kaki.

2.     Hadis Atau Sunnah
Pengerian hadis atau sunnah
       Secara bahasa hadis berarti perkataan atau ucapan. Menurut istilah, hadis adalah segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan (taqrir) yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Hadis juga dinamakansunnah. Namun demikian, ulama hadis membedakan hadis dengan sunnah. Hadis adalah ucapan atau perkataan Rasulullah saw., sedangkan sunnah adalah segala apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. yang menjadi sumber hukum Islam.      

       Hadis dalam arti perkataan atau ucapan Rasulullah saw. terdiri dari beberapa bagian yang saling berkaitan satu sama lain. Bagian hadis tersebut antara lain :
v  Sanad,
v  Matan, dan
v  Rawi.

Kedudukan hadis atau sunnah sebagai sumber hukum Islam
       Sebagai sumber hukum Islam, hadis berada satu tingkat di bawah al- Qur’ān. Artinya, jika sebuah perkara hukumnya tidak terdapat di dalam al- Qur’ān, yang harus dijadikan sandaran berikutnya adalah hadis tersebut. Allah berfirman:
Artinya : “... dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah
ia. Dan apa-apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.” (Q.S. al-Hasyr/59:7)

Fungsi hadis terhadap al- Qur’ān
       Rasulullah saw. sebagai pembawa risalah Allah Swt. bertugas menjelaskan ajaran yang diturunkan Allah Swt. melalui al-Qur’ān kepada umat manusia. Oleh karena itu, hadis berfungsi untuk menjelaskan (bayan) serta menguatkan hukum-hukum yang terdapat dalam al-Qur’ān.
       Fungsi hadis terhadap al-Qur’ān dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Ø  Menjelaskan ayat-ayat al-Qur’ān yang masih bersifat umum.
Ø  Memperkuat pernyataan yan g ada dalam al-Qur’ān.
Ø  Menerengkan maksud tujuan ayat.
Ø  Menetapkan hukum baru yang tidak terdapat dalam al-Qur’ān.

Macam-macam hadis
       Ditinjau dari segi perawinya, hadis terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu:
Ø  Hadis Mutawattir
Ø  Hadis Masyhur
Ø  Hadis Ahad
       Hadis ahad ini dibagi menjadi empat bagian. Yaitu :
(a)   Hadis Sahih
(b)  Hadis Hasan
(c)   Hadis Da’if
(d)  Hadis Maudu’

3.     Ijtihad Sebagai Upaya  Memahami Al-Qur’ān Dan Hadis
Pengertian ijtihad
       Kata ijtihād berasal bahasa Arab ijtahada-yajtahidu-ijtihādan yang berarti mengerahkan segala kemampuan, bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga, atau bekerja secara optimal. Secara istilah,ijtihād adalah mencurahkan segenap tenaga dan pikiran secara sungguh-sungguh dalam menetapkan suatu hukum. Orang yang melakukan ijtihād dinamakan mujtahid.

Syarat-syarat berijtihad
Ø Memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam.
Ø  Memiliki pemahaman mendalam tentang bahasa Arab, ilmu tafsir, usul fikih, dan tarikh (sejarah).
Ø Memahami cara merumuskan hukum (istinba¯).
Ø Memiliki keluhuran akhlak mulia.

Kedudukan ijtihad
       Ijtihād memiliki kedudukan sebagai sumber hukum Islam setelah al-Qur’ān dan hadis. Ijtihāddilakukan jika suatu persoalan tidak ditemukan hukumnya dalam     al-Qur’ān dan hadis. Namun demikian, hukum yang dihasilkan dari ijtihād tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’ān maupun hadis.
       Rasulullah saw. juga mengatakan bahwa seorang yang berijtihād sesuai dengan kemampuan dan ilmunya, kemudian ijtihādnya benar, maka ia mendapatkan dua pahala, dan jika kemudian ijtihādnya itu salah maka ia mendapatkan satu pahala.

Bentuk-bentuk ijtihad
       Ijtihād sebagai sebuah metode atau cara dalam menghasilkan sebuah hukum terbagi ke dalam beberapa bagian, seperti berikut.
Ø  Ijma’
Ø  Qiyas
Ø Maślahah Mursalah

B.    Pembagian Hukum Islam
       Para ulama membagi hukum Islam ke dalam dua bagian, yaitu hukum taklifi dan hukum wad’i. Hukumtaklifi adalah tuntunan Allah Swt. yang berkaitan dengan perintah dan larangan. Hukum wad’i adalah perintah Allah Swt. yang merupakan sebab, syarat, atau penghalang bagi adanya sesuatu.

Hukum Taklifi
       Hukum taklifi terbagi ke dalam lima bagian, seperti berikut.
Ø  Wajib (fardu), yaitu aturan Allah Swt. yang harus dikerjakan, dengan konsekuensi bahwa jika dikerjakan akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan akan berakibat dosa. Pahala adalah sesuatu yang akan membawa seseorang kepada kenikmatan (surga). Sedangkan dosa adalah sesuatu yang akan membawa seseorang ke dalam kesengsaraan (neraka). Misalnya perintah wajib śalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.
Ø  Sunnah (mandub), yaitu tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan dengan konsekuensi jika dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan karena berat untuk melakukannya tidaklah berdosa. Misalnya ibadah śalat rawatib, puasa Senin-Kamis, dan sebagainya.
Ø  Haram (tahrim), yaitu larangan untuk mengerjakan suatu pekerjaan atau perbuatan. Konsekuesinya adalah jika larangan tersebut dilakukan akan mendapatkan pahala, dan jika tetap dilakukan, akan mendapatkan dosa dan hukuman. Akibat yang ditimbulkan dari mengerjakan larangan Allah Swt. ini dapat langsung mendapat hukuman di dunia, ada pula yang dibalasnya di akhirat kelak. Misalnya larangan meminum minuman keras/narkoba/khamr, larangan berzina, larangan berjudi dan sebagainya.
Ø  Makruh (Karahah), yaitu tuntutan untuk meninggalkan suatu perbuatan. Makruh artinya sesuatu yang dibenci atau tidak disukai. Konsekuensi hukum ini adalah jika dikerjakan tidaklah berdosa, akan tetapi jika ditinggalkan akan mendapatkan pahala. Misalnya adalah mengonsumsi makanan yang beraroma tidak sedap karena zatnya atau sifatnya.
Ø  Mubah (al-Ibahah), yaitu sesuatu yang boleh untuk dikerjakan dan boleh untuk ditinggalkan. Tidaklah berdosa dan berpahala jika dikerjakan ataupun ditinggalkan. Misalnya makan roti, minum susu, tidur di kasur, dan sebagainya.

C.     Cara Penerapan Perilaku Mulia Dengan Berpedoman Pada Al-Qur’ān Dan Hadis
       Adapun cara penerapannya antara lain :
1)     Gemar membaca dan mempelajari al-Qur’ān dan hadis baik ketika sedang sibuk ataupun santai.
2)     Berusaha sekuat tenaga untuk merealisasikan ajaran-ajaran al-Qur’ān dan hadis.
3)     Selalu mengonfirmasi segala persoalan yang dihadapi dengan merujuk kepada al-Qur’ān dan hadis, baik dengan mempelajari sendiri atau bertanya kepada yang ahli di bidangnya.
4)     Mencintai orang-orang yang senantiasa berusaha mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran al-Qur’ān dan Sunnah.
5)     Kritis terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi dengan terus-menerus berupaya agar tidak keluar dari ajaran-ajaran al-Qur’ān dan Sunnah.
6)     Membiasakan diri berpikir secara rasional dengan tetap berpegang teguh kepada al-Qur’ān dan hadis.
7)     Aktif bertanya dan berdiskusi dengan orang-orang yang dianggap memiliki keahlian agama dan berakhlak mulia.
8)     Berhati-hati dalam bertindak dan melaksanakan sesuatu, apakah boleh dikerjakan ataukah ditinggalkan.
9)     Selalu berusaha keras untuk mengerjakan segala kewajiban serta meninggalkan dan menjauhi segala larangan.
10)Membiasakan diri untuk mengerjakan ibadah-ibadah sunnah sebagai upaya menyempurnakan ibadah wajib karena khawatir belum sempurna.





BAB III
 PENUTUP

A.    Kesimpulan
       Dari hasil duskisi yang telah kami jabarkan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
       Al-Qur’ān adalah kalam Allah Swt. (wahyu) yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril dan diajarkan kepada umatnya, dan membacanya merupakan ibadah.  Al-Qur’ān juga adalah sumber hukum utama selain sebagai kitab suci. Oleh karena itu, semua ketentuan hukum yang berlaku tidak boleh bertentangan dengan hukum-hukum yang terdapat dalam al-Qur’ān.
       Selain al-Qur’ān, terdapat pula Hadis atau sunnah yakni segala ucapan atau perkataan, perbuatan, serta ketetapan (taqrir) Nabi Muhammad saw. yang terlepas dari hawa nafsu dan perkara-perkara tercela. Hadis merupakan sumber hukum kedua setelah al-Qur’ān. Dengan demikian, hadis memiliki fungsi yang sangat penting dalam hukum Islam. Di antara fungsi hadis, yaitu untuk menegaskan ketentuan yang telah ada dalamal-Qur’ān, menjelaskan ayat al-Qurān (bayan tafsir), dan menjelaskan ayat-ayat al-Qurān yang bersifat umum (bayan takhśiś).
      Setelah kita memahami al-Qur’ān dan hadis, maka alangkah baiknya kita berijtihad. Ijtihād artinya bersungguh-sungguh atau mencurahkan segala kemampuan. Ijtihād yaitu upaya sungguh-sungguh mengerahkan segenap kemampuan akal untuk mendapatkan hukum-hukum syari’at pada masalah-masalah yang tidak ada nashnya. Ijtihād dilakukan dengan mencurahkan kemampuan untuk mendapatkan hukumsyara’ atau ketentuan hukum yang bersifat operasional dengan mengambil kesimpulan dari prinsip dan aturan yang telah ada dalam al-Qur’ān dan Sunnah Nabi Muhammad saw.
       Memahami dan menerapkan hukum-hukum Islam dalam kehidupan akan membawa manfaat besar bagi manusia. Semua aturan atau hukum yang bersumber dari Allah Swt. dan Rasul-Nya merupakan suatu aturan yang dapat membawa kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat.

B.    Saran
       Untuk pengembangan lebih lanjut, maka penulis memberikan saran yang mungkin dapat bermanfaat dan dapat membentu agar lebih mengenal al-Qur’ān dan hadis yang dijadikan sebagai pedoman hidup. Beberapa saran tersebut antara lain :
v  Melatih otak dengan maksimal dengan cara mempelajari dan memahami al-Qur’ān dan Hadis .
v  Menjadikan al-Qur’ān dan Hadis menjadi pedoman hidup, sehingga dapat menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt, berahlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi sosok yang dapat memimpin bangsa kelak dewasa nanti.











DAFTAR PUSTAKA

ü  ------. 2014. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Jakata: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
ü  http://www.google.com/
http://99mienowuna.blogspot.com/2016/04/makalah-singkat-al-quran-dan-hadist.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar