CONTOH MAKALAH EKONOMI MODERN TERLENGKAP

Makalah Ekonomi Modern terlengkap




                                                             BAB I
                                                      PENDAHULUAN

Modernization bermakna melakukan formulasi ulang sesuatu yang asalnya primitif atau tradisional, menuju kondisi yang lebih baik secara fisik. Pengertian ini menekankan adanya perubahan atau pertambahan bentuk fisik dari kondisi asalnya.

     Secara epistemologis, teori modernisasi  merupakan campuran antara pemikiran fungsionalisme struktural dengan pemikiran behaviorisme kultural Parsonian. Para pendukungnya memandang bahwa masyarakat akan berubah secara linier, yaitu perubahan yang selaras, serasi dan seimbang dari unsur masyarakat paling kecil sampai ke perubahan masyarakat keseluruhan dari tradisisonal menuju modern. Pandangan teori modernisasi semacam itu diilhami oleh pengalaman sejarah Revolusi Industri di Inggris yang dianggap sebagai titik awal pertumbuhan ekonomi kapitalis modern dan Revolusi Perancis sebagai titik awal pertumbuhan sistem politik modern dan demokratis.

 Sementara itu, Latar Belakang Lahirnya Teori modernisasi  sebagai peristiwa penting dunia setelah Perang Dunia Kedua.
Pertama, setelah munculnya Amerika Serikat sebagai negara adikuasa dunia. Pada tahun 1950-an Amerika Serikat menjadi pemimpin dunia sejak pelaksanaan Marshall Plan yang diperlukan membangun kembali Eropa Barat setelah Perang Dunia Kedua.

Kedua, pada saat yang sama terjadi perluasan komunisme di seantero jagad. Uni Soviet memperluas pengaruh politiknya sampai di Eropa Timur dan Asia, antara lain di Cina dan Korea. Hal ini mendorong Amerika Serikat untuk berusaha memperluas pengaruh politiknya selain Eropa Barat, sebagai salah satu usaha membendung penyuburan ideologi komunisme.
Cyril E. Black dalam "Dinamics of Modernization" berpendapat bahwa secara historis modernisasi adalah proses perkembangan lembaga-lembaga secara perlahan disesuaikan dengan perubahan fungsi secara cepat dan menimbulkan peningkatan yang belum pernah dicapai sebelumnya dalam hal pengetahuan manusia. Dengan pengetahuan tersebut, akan memungkinkan manusia untuk menguasai lingkungannya dan melakukan revolusi ilmiah.

RUMUSAN MASALAH
1. Apa Pengertian Ekonomi Modern ?
2. Apa saja Sistem Ekonomi Modern ?
3. Apa Itu Teori Modern Dalam Perdagangan Internasional ?
4. Apa Saja Masalah Pokok Ekonomi Modern ?
5. Coba sebutkan Contoh Masalah Ekonomi Modern ?

TUJUAN PEMBUATAN
1. Untuk Mengetahui Pengertian Ekonomi Modern
2. Untuk Mengetahui  Sistem Ekonomi Modern
3. Untuk Mengetahui  Teori Modern Dalam Perdagangan Internasional
4. Untuk Mengetahui  Masalah Pokok Ekonomi Modern
5. Untuk Mengetahui  Contoh Masalah Ekonomi Modern



                                                             BAB II
                                                       PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN EKONOMI MODERN

Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan (Ingg: scarcity).
Kata "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani ????? (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan ????? (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja.
Secara umum, subyek dalam ekonomi dapat dibagi dengan beberapa cara, yang paling terkenal adalah mikroekonomi vs makroekonomi. Selain itu, subyek ekonomi juga bisa dibagi menjadi positif (deskriptif) vs normatif, mainstream vs heterodox, dan lainnya. Ekonomi juga difungsikan sebagai ilmu terapan dalam manajemen keluarga, bisnis, dan pemerintah. Teori ekonomi juga dapat digunakan dalam bidang-bidang selain bidang moneter, seperti misalnya penelitian perilaku kriminal, penelitian ilmiah, kematian, politik, kesehatan, pendidikan, keluarga dan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya ekonomi - seperti yang telah disebutkan di atas adalah ilmu yang mempelajari pilihan manusia. Banyak teori yang dipelajari dalam ilmu ekonomi diantaranya adalah teori pasar bebas, teori lingkaran ekonomi, invisble hand, informatic economy, daya tahan ekonomi, merkantilisme, briton woods, dan sebagainya.
Ada sebuah peningkatan trend untuk mengaplikasikan ide dan metode ekonomi dalam konteks yang lebih luas. Fokus analisa ekonomi adalah "pembuatan keputusan" dalam berbagai bidang dimana orang dihadapi pada pilihan-pilihan. misalnya bidang pendidikan, pernikahan, kesehatan, hukum, kriminal, perang, dan agama. Gary Becker dari University of Chicago adalah seorang perintis trend ini. Dalam artikel-artikelnya ia menerangkan bahwa ekonomi seharusnya tidak ditegaskan melalui pokok persoalannya, tetapi sebaiknya ditegaskan sebagai pendekatan untuk menerangkan perilaku manusia. Pendapatnya ini terkadang digambarkan sebagai ekonomi imperialis oleh beberapa kritikus.
Banyak ahli ekonomi mainstream merasa bahwa kombinasi antara teori dengan data yang ada sudah cukup untuk membuat kita mengerti fenomena yang ada di dunia. Ilmu ekonomi akan mengalami perubahan besar dalam ide, konsep, dan metodenya; walaupun menurut pendapat kritikus, kadang-kadang perubahan tersebut malah merusak konsep yang benar sehingga tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Hal ini menimbulkan pertanyaan "apa seharusnya dilakukan para ahli ekonomi?"
Sistem perekonomian modern adalah sistem pereonomian yang lebih dominan menggunakan teknologi yang canggih dibandingkan dengan tenaga manusianya dalam upaya pemenuhan kebutuhannya.

B. SISTEM EKONOMI MODERN
Sistem ekonomi modern memiliki prinsip kemandirian. Mandiri tidak berarti terisolasi, melainkan karena hubungannya dengan ekonomi lain, ekonomi modern memiliki keunggulan-keunggulan yang memperkuat posisi tawar-menawar.
Sistem ekonomi modern sendiri mengacu pada perkembangan negara maju Eropa Barat, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Jepang.
Pertumbuhan ekonomi terjadi berdasarkan peningkatan kemampuan penduduk dalam jangka panjang. Kemampuan yanh dimaksud adalah dalam hal penyediaan barang secara terus-menerus. Kemampuan ini berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi, dan penyesuaian dengan kelembagaan dan ideologis yang diperlukan.
Dari penjelasan di atas, dapat dijabarkan bahwa pertumbuhan ekonomi modern dapat dilihat dari:
1. Meningkatnya persediaan barang secara terus-menerus.
2. Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi kemajuan teknologi, yang menentukan derajat pertumbuhan kemampuan dalam menyediakan aneka macam barang kepada masyarakat.
3. Adanya penyesuaian dalam kelembagaan dan ideologi, sehingga penggunaan teknologi dan inovasi secara luas dapat dimanfaatkan oleh umat manusia.
Sayangnya, teknologi modern tidak cocok dengan corak / kehidupan desa, pola keluarga besar, usaha keluarga, dan buta huruf. Sehingga perlu dilakukan edukasi yang perlahan namun pasti.

A. Manusia Modern Dan Alat Produksi
Memang manusia barat baru melek selepas tahun 1500 an. Dalam tahun-tahun kemudian setelah itu barulah manusia barat memulai berproduksi. Produksi inilah yang kemudian membingungkan didalam pendistribusian hasilnya. Awalnya produksi banyak menggunakan tenaga kerja karena mekanisasi alat produksi memang belum dikenal. Harus kita ingat bahwa pada tahun 1500 an belum ada listrik, belum ada alat mekanis dan juga belum ada mesin uap sekalipun.

1. Adam Smith :
Adam Smith (1723-1790) adalah bapak ekonomi modern dengan nama teori invisible hands. Menurut teori ini, pasar akan diatur oleh tangan-tangan tidak kelihatan (invisible hands). Inipun disinyalir mengambil dari teori ekonomi Islam sebagai berikut :
"Harga melambung pada zaman Rasulullah SAW. Orang-orang ketika itu mengajukan saran kepada Rasulullah dengan berkata: "ya Rasulullah hendaklah engkau menetukan harga". Rasulullah SAW. berkata:"Sesungguhnya Allah-lah yang menetukan harga, yang menahan dan melapangkan dan memberi rezeki. Sangat aku harapkan bahwa kelak aku menemui Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntutku tentang kezaliman dalam darah maupun harta."

Tentu saja berbeda masalah yang dihadapi selepas tahun 1500 an dengan masalah yang terjadi sebelum tahun tersebut. Masalah yang dihadapi selepas tahun 1500 an adalah masalah distribusi hasil industri dan akumulasi kekayaan oleh pemilik suatu industri. Munculnya kaum borjuis baru yang menyamai atau mengalahkan posisi kaum tuan tanah bahkan mungkin kekayaan raja.

Disisi lain juga muncul cara memperkerjakan orang. Sistem penggajian, sistem kepemilikan suatu usaha dan sistem hak cipta dan banyak lagi masalah yang membelenggu. Dalam hal memepkerjakan orang demi diraihnya keuntungan yang besar banyak dipekerjakan wanita dan anak-anak selama 24 jam. Tidak diberi kesempatan keluar pabrik apalagi keluar negeri untuk menghindari terjadi kebocoran rahasia industri.

2. Karl Heinrich Marx (1818-1883)
Hal-hal semacam diataslah yang memaksa orang berpikir tentang perlunya perjuangan kaum buruh. Maka munculah terori Marx yang terkenal Das Capital (1849) adalah kritik terhadap sistem kapitalisme Setahun sebelumnya bersama Eangels kolaborasinya yang terdekat menuliskan Communist Manifesto. Inilah yang kemudian menjadi landasan ideologi komunis.

Tanggal 24 Januari 1859, untuk pertama kalinya, sumur pengeboran minyak berhasil mengeluarkan minyak dari dalam bumi. Sumur ini dibuat oleh Edwin Lorentine Drake di tengah kawasan pertanian di barat laut Pennsylvania. Drake memilih lokasi tersebut untuk usaha pengeboran minyaknya karena sebelumnya, warga kawasan itu sudah sering menemukan minyak ketika menggali sumur untuk mencari air biasa. Sumur ini kemudian dikenal dengan nama The Drake Well, dan keberhasilan pengeboran minyak pertama ini memulai eksplorasi minyak di seluruh dunia.

Seratus lima puluh tuhun yang lalu manusia berhasil membuat sumur minyak, dan saat ini, tahun 2008 manusia begitu tergantungnya dengan cairan yang satu ini. Hal ini tidak terlepas` dari keberhasilan Gottlieb Daimler or Karl Benz menciptakan mesin penggerak berbahan bakar minyak pada tahun 1876.

Revolusi Industri adalah perubahan teknologi, sosioekonomi, dan budaya pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 yang terjadi dengan penggantian ekonomi yang berdasarkan pekerja menjadi yang didominasi oleh industri dan diproduksi mesin. Revolusi ini dimulai di Inggris dengan perkenalan mesin uap (dengan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar) dan ditenagai oleh mesin (terutama dalam produksi tekstil). Perkembangan peralatan mesin logam-keseluruhan pada dua dekade pertama dari abad ke-19 membuat produk mesin produksi untuk digunakan di industri lainnya.

Dengan ditemukannya mesin bakar maka perkembangan teknologi terus berjalan dengan pesat. Beberapa berpikir bahwa mesin-mesin industri dimiliki oleh perorangan atau sekelompok orang yang disebut sebagai kaum industrialis (kapitalisme) sebagian orang lagi merasa bahwa mesin-mesin industri dimiliki oleh negara (komunisme). Perang dingin dan panas terjadi pada dua kelompok yang masing-masing menganggap bahwa 'ideologi'nyalah yang paling benar dan layak di lakukan.

Banyak manusia yang tidak paham duduk persolannya jadi korban baik fisik maupun nyawa. Persaingan dua kutub inipun terus terjadi. Masing-masing menunjukkan keunggulanya di berbagai bidang baik teknologi nuklir maupun teknologi ruang angkasa. Demi mempertahankan ideologinya kedua belah pihak membangun industri militer yang sangat canggih.

Pun demikian waktu yang membuktikan bahwa komunisme terjebak dalam bentuk state capitalism. Kesejahteraan tidak terdistribusi pada rakyat namun hanya dinikmati segelintir orang yang berada di partai. Sebagian besar keuntungan dijadikan industri peralatan perang bukan untuk meningkatkan kemakmuran. Dilain pihak, kapitalisme justru mendapatkan turunan-turunan dari cara memiliki suatu usaha. Desakan-desakan kaum buruh didaerah kapitalis juga terus terjadi sehingga perbaikan-perbaikan terhadap kaum buruh juga terus terjadi mulai dari jaminan sosial, jaminan jam kerja yang terbatas, hak cuti tahunan, fasilitas perumahan dan ini terus terjadi. Pada akhirnya yang dicari umat manusia sebenarnya adalah kesejahteraan.

C. Teori Modern Dalam Perdagangan Internasional
Perdagangan antar negara maju pesat sejak pertengahan abad 19 sampai dengan permulaan abad 20. Keamanan serta kedamaian dunia ( sebelum perang dunia I ) memberikan saham yang besar bagi perkembangan perdagangan internasional yang pesat. Teori klasik nampaknya mampu memberikan dasar serta penjelasan bagi kelangsungan jalannya perdagangan dunia. Hal itu terlihat dari usaha masing-masing negara yang ikut didalamnya untuk melakukan spesialisasi dalam produksi, serta berusaha mengekspor barang-barang yang paling sesuai / menguntungkan bagi mereka.

Negara-negara / daerah- daerah tropik berusaha untuk menspesialisasikan diri mereka dalam produksi serta ekspor barang-barang yang berasal dari pertanian, perkebunan, dan pertambangan, sedangkan Negara-negara / daerah-daerah sedang, yang relatif kaya akan modal, berusaha untuk menspesialisasikan diri mereka dalam produksi serta ekspor barang-barang industri. Heckscher-Ohlin mengemukakan konsepsinya yang dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Bahwa perdagangan internasional / antar negara tidaklah banyak berbeda dan hanya merupakan kelanjutan saja dari perdagangan antar daerah. Perbedaan pokoknya terletak pada masalah jarak. Atas dasar inilah maka Ohlin melepaskan anggapan ( yang berasal dari teori klasik ) bahwa dalam perdagangan internasional ongkos transport dapat diabaikan.
b. Bahwa barang-barang yang diperdagangkan antar negara tidaklah didasarkan atas keuntungan alamiah atau keuntungan yang diperkembangkan ( natural and acquired advantages dari Adam Smith ) akan tetapi atas dasar proporsi serta intensitas faktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan barang-barang itu.

Masing-masing negara memiliki faktor-faktor produksi neo-klasik ( tanah, tenaga kerja, modal ) dalam perbandingan yang berbeda-beda, sedang untuk menghasilkan sesuatu barang tertentu diperlukan kombinasi faktor-faktor produksi yang tertentu pula.

Namun demikian tidaklah berarti bahwa kombinasi faktor-faktor produksi itu adalah tetap. Jadi untuk menghasilkan sesuatu macam barang tertentu fungsi produksinya dimanapun juga sama, namun proporsi masing-masing faktor produksi dapatlah berlainan ( karena adanya kemungkinan penggantian / subtitusi faktor yang satu dengan faktor yang lainnya dalam batas-batas tertentu ). Jadi teori Heckscher-Ohlin dalam batas-batas definisinya menyatakan bahwa :
a. Sesuatu negara akan menghasilkan barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang relatif banyak ( dalam arti bahwa harga relatif faktor produksi itu murah ), sehingga harga barang-barang itu relatif murah karena ongkos produksinya relatif murah. Karena itu Indonesia yang memiliki relatif banyak tenaga kerja sedang modal relatif sedikit sebaiknya menghasilkan dan mengekspor barang-barang yang relatif padat karya.
b. Dengan mengutamakan produksi dan ekspornya pada barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang relatif banyak, maka harga faktor produksi yang relatif banyak akan naik.

Dalam hal ini "relatif banyak"menunjuk kepada jumlah phisiknya, bukan harga relatifnya. Karena harga relatif kedua macam barang itu sebelum perdagangan berjalan adalah berlainan, maka negara yang memiliki faktor produksi tenaga kerja relatif banyak akan cenderung untuk menaikan produksi barang yang padat karya dan mengurangi produksi barangnya yang padat modal. Negara itu akan mengekspor barangya yang padat karya dan mengimpor barang yang padat modal. Dengan demikian perdagangan internasional akan mendorong naik harga faktor produksi yang relatif sedikit.

Sebagai akibatnya untuk negara yang memiliki faktor produksi modal relatif banyak, upah akan turun sedang harga modal - tingkat bunga - akan naik. Jadi perdagangan internasional cenderung untuk mendorong harga faktor produksi yang sama, antar negara menjadi sama pula (equalization of factor price).

Perdagangan internasional terjadi karena masing-masing pihak yang terlibat didalamnya merasa memperoleh manfaat dari adanya perdagangan tersebut. Dengan demikian perdagangan tidak lain adalah kelanjutan atau bentuk yang lebih maju dari pertukaran yang didasarkan atas kesukarelaan masing-masing pihak yang terlibat. Tentu saja pengertian "kesukarelaan" dalam perdagangan internasional harus diberi tanda petik, karena realitasnya kesukarelaan ini sebenarnya tidak selalu terjadi, namun paksaan yang mendorong terjadinya perdagangan internasional tersebut tidaklah selalu terlihat jelas. Salah satu bentuk paksaan ini misalnya, terlihat pada perdagangan yang timbul sebagai akibat bantuan luar negeri yang mengikat (Tied aid). Apabila negara A menerima bantuan dari negara B tetapi dengan ketentuan bahwa bantuan (kredit) itu harus dibelanjakan di negara B, maka perdagangan yang timbul antara A dan B sebagai akibat pemberian bantuan itu jelas tidak sepenuhnya didasarkan atas kesukarelaan kedua belah pihak. Paksaan yang lebih halus lagi terlihat pada bentuk-bentuk perdagangan internasional yang merupakan ikutan dari perkembangan industrialisasi dalam negara-negara yang sedang berkembang yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan raksasa yang mempunyai cabang di berbagai negara dan berinduk di negara maju (perusahaan-perusahaan multinasional).

Harga barang yang sama dapat berlainan di negara yang berlainan karena harga dicerminkan oleh ongkos produksi (apabila permintaan dianggap sama), sehingga perbedaan harga timbul karena perbedaan ongkos produksi. Menurut Ricardo & Mill, Ongkos produksi ditentukan oleh banyaknya jam kerja yang dicurahkan untuk membuat barang itu. Jadi apabila untuk membuat barang yang sama diperlukan banyak jam yang berlainan bagi negar yang berlainan tersebut, maka ongkos produksinya juga akan berlainan. Perbedaan dalam banyak jam kerja menurut teori Ricardian (klasik) disebabkan karena perbedaan dalam teknik produksi (atau tingkat teknologi), perbedaan dalam ketrampilan kerja (produktivitas tenaga kerja), perbedaan dalam penggunaan faktor produksi atau kombinasi antar mereka. Dengan kata lain ongkos produksi untuk membuat barang yang sama berlainan karena fungsi produksinya lain.

Menurut Heckscher - Ohlin, ongkos produksi ditentukan oleh penggunaan faktor produksi atau sumber daya. Jadi apabila faktor produksi itu digunakan dalam proporsi dan intensitas yang berlainan, walaupun tingkat teknologi dan produktivitas tenaga kerja sama, ongkos produksi untuk membuat barang yang sama di negara yang berlainan juga akan lain.
Perbedaan dalam penggunaan proporsi dan intensitas faktor produksi yang disebabkan karena perbedaan dalam hadiah alam (factor endowment) yang diterima oleh masing- masing negara. Dengan kata lain ongkos produksi untuk membuat barang yang sama berlainan karena perbedaan hadiah alam, bukan karena fungsi produksinya lain.

Salah satu kesimpulan utama teori H-O adalah bahwa perdagangan internasional cenderung untuk menyamakan tidak hanya harga barang-barang yang diperdagangkan saja, tetapi juga harga faktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan barang-barang tersebut. Kesimpulan ini sebenarnya merupakan akibat dari konsepsi mereka mengenai hubungan antara spesialisasi dengan proporsi faktor-faktor poduksi yang digunakan.

Dalam hal-hal khusus, bahkan tidak mungkin untuk mengenali apakah barang-barang itu barang-barang padat karya ataukah barang-barang padat modal dipandang dari dunia seabagai satu keseluruhan. Negara yang memiliki tenaga kerja relatif banyak mungkin saja mempunyai keuntungan komparatif dalam barang-barang yang padat modal dan sebaliknya. 

Karena akibat adanya perdagangan internasional adalah naiknya harga relatif barang-barang yang dihasilkan dengan menggunakan prinsip keuntungan komparatif itu dan dengan demikian juga faktor produksi yang digunakanya secara intensif, maka akibat pada harga relatif faktor-faktor produksinya mungkin berupa perubahan yang menuju ke arah yang sama tetapi dapat juga berlawanan, lagi pula dalam keseimbangan, kedua negara dapat terus menghasilkan kedua macam barang itu walaupun harga faktor-faktor produksinya berlainan di kedua negara tersebut.

Pada tahun 1920-an para ahli ekonomi mulai mempertimbangkan fakta bahwa kebanyakan industri memperoleh keuntungan dari skala ekonomi (economies of scale) yaitu dengan semakin besarnya pabrik dan meningkatnya keluaran, biaya produksi per unit menurun. Ini terjadi karena peralatan yang lebih besar dan lebih efisien dapat digunakan, sehingga perusahaan dapat memperoleh potongan harga atas pembelian- pembelian mereka dengan volume yang lebih besar dan biaya-biaya tetap seperti biaya penelitian dan pengembangan sertaoverhead administratif dapat dialokasikan pada kuantitas keluaran yang lebih besar. Biaya-biaya produksi juga menurun karena kurva belajar (learning curve).

Begitu perusahaan memproduksi produk lebih banyak, mereka mempelajari cara-cara untuk meningkatkan efisiensi produksi, yang menyebabkan biaya poduksi berkurang dengan suatu jumlah yang dapat diperkirakan. Skala ekonomi dan kurva pengalaman (experience curve) mempengaruhi perdagangan internasional karena memungkinkan industri-industri suatu negara menjadi produsen biaya rendah tanpa memiliki faktor-faktor produksi yang berlimpah. Perdagangan internasional timbul utamanya karena perbedaan-perbedaan harga relatif diantara negara. Perbedaan- perbedaan ini berasal dari perbedaan dalam biaya produksi, yang diakibatkan oleh :
1. Perbedaan-perbedaan dalam perolehan atas faktor produksi.
2. Perbedaan-perbedaan dalam tingkat teknologi yang menentukan intensitas faktor yang digunakan.
3. Perbedaan-perbedaan dalam efisiensi pemanfaatan faktor-faktor.
4. Kurs valuta asing.

Meskipun demikian perbedaan selera dan variabel pemintaan dapat membalikkan arah perdagangan. Teori perdagangan internasional jelas menunjukan bahwa bangsa-bangsa akan memperoleh suatu tingkat kehidupan yang lebih tinggi dengan melakukan spesialisasi dalam barang-barang dimana mereka memiliki keunggulan komparatif dan mengimpor barang-barang yang mempunyai kerugian secara komparatif. Pada umumnya hambatan-hambatan perdagangan yang memberhentikan mengalirnya barang-barang dengan bebas akan membahayakan kesejahteraan suatu bangsa.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SISTEM EKONOMI MODERN
kelebihan :
1. pemasaran lebih cepat dan efisien
2. memudahkan produsen menproduksi barang
3. tidak memerlukan banyak waktu produksi.
4. pengaturan dalam sistem ekonomi penjualan lebih mudah
5. adanya saling keterkaitan antara teknologi, zaman, Dan para produsen yang jauh lebih bermanfaat.

kelemahan :
1. kurang terjaminya kualitas barang karena tidak melihat secara langsung
2. kasus penipuan yang sering terjadi membuat para konsumen resah
3. kurangnya keterbatasan ruang gerak produksi sehingga pemasaran bisa memakan banyak biaya
4. kurangnya ketelitian terhadap barang karena tidak memilih langsung
5. ketidakpuasan terhadap barang karena tidak bisa menukar atau memilih barang lainnya apabila tidak sesuai selera awal atau tidak berkualitas
Pada dasarnya, modernisasi memiliki cirri-ciri tertentu yaitu :
1.      tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut
2.      kadar partisipasi rakyat dalam pemerintahan yang memadai
3.      difusi norma-norma sekuleer-rasional dalam kebudayaan
4.      peningkatan mobilitas dalam masyarakat
5.      transformasi kepribadian individu

     Walaupun konsep modernisasi masih relatif baru, akan tetapi para ahli yang menyusun teori mengenai modernisasi kebanyakan telah dipengaruhi oleh perspektif evolusi dan fungsional-struktural. Mereka menggolongkan teori modernisasi ke dalam dua tipe :
1.      Teori variabel kritis
Mencakup sejenis perubahan tunggal seperti rasionalisasi atau industrialisasi dan istilah modernisasi menjadi sama artinya dengan variabel kritis.
2.      Teori dikotomi
Mencakup proses transformasi masyarakat tradisional menjadi modern.

      2.2. Konsep Pertumbuhan Ekonomi.
     Pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan dengan pembangunan Artinya, ketika berbicara tentang pembangunan, maka tidak dapat dilepaskan dari peningkatan kemampuan ekonomi dari manusia yang menjadi pelaku pembangunan itu sendiri. Muara dari economic growth adalah kemakmuran yang juga dapat menjadi tanda bahwa pembangunan telah berhasil dilakukan.

     Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Oleh karena itu, suatu Negara diakatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP riil di Negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.

     Pertumbuhan ekonomi adalah proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.

      2.3. Pengaruh Modernisasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
     Di atas telah kita paparkan apa yang dimaksud dengan modernisasi dan pertumbuhan ekonomi, pertanyaan yang timbul selanjutnya adalah apa hubungan atau pengaruh modernisasi terhadap pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Walt Whitman Rostow kemudian memberikan penjelasan tentang Teori Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi yang diklasifikasikan sebagai teori modernisasi. Rostow memaparkan sebuah ide sederhana bahwa transformasi ekonomi setiap negara dapat ditelisik dari aspek sejarah pertumbuhan ekonominya hanya dalam tiga tahap: tahap prekondisi tinggal landas (yang membutuhkan waktu berabad-abad lamanya), tahap tinggal landas (20-30 tahun), dan tahap kemandirian ekonomi yang terjadi secara terus-menerus.

     Rostow kemudian mengembangkan ide tentang perspektif identifikasi dimensi ekonomi tersebut menjadi lima tahap kategori dalam bukunya  The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto yang diterbitkan pada tahun 1960. Ia meluncurkan teorinya sebagai 'sebuah manifesto anti-komunis' sebagaimana tertulis dalam bentuk subjudul. Rostow menjadikan teorinya sebagai alternatif bagi teori Karl Marx mengenai sejarah modern. Fokusnya pada peningkatan pendapatan per kapita, Buku itu kemudian mengalami pengembangan dan variasi pada tahun 1978 dan 1980.

     Dalam hal prekondisi untuk meningkatkan ekonomi suatu negara, penekanannya terdapat pada keseluruhan proses di mana masyarakat berkembang dari suatu tahap ke tahap yang lain. Tahap-tahap yang berbeda ini ditujukan untuk mengidentifikasi variabel-variabel kritis atau strategis yang dianggap mengangkat kondisi-kondisi yang cukup dan perlu untuk perubahan dan transisi menuju tahapan baru yang berkualitas. Teori ini secara mendasar bersifat unilinear dan universal, serta dianggap bersifat permanen.

     Pembangunan, dalam arti proses, diartikan sebagai modernisasi yakni pergerakan dari masyarakat pertanian berbudaya tradisional ke arah ekonomi yang berfokus pada rasional, industri, dan jasa. Untuk menekankan sifat alami 'pembangunan' sebagai sebuah proses, Rostow menggunakan analogi dari sebuah pesawat terbang yang bergerak sepanjang lintasan terbang hingga pesawat itu dapat lepas landas dan kemudian melayang di angkasa.

      Pembangunan, dalam arti tujuan, dianggap sebagai kondisi suatu negara yang ditandai dengan adanya: a)Kemampuan konsumsi yang besar pada sebagian besar masyarakat, b)Sebagian besar non-pertanian, dan c)Sangat berbasis perkotaan.
Sebagai bagian teori modernisasi, teori ini mengkonsepsikan pembangunan sebagai modernisasi yang dicapai dengan mengikuti model kesuksesan Barat. Para pakar ekonomi menganggap bahwa teori tahap-tahap pertumbuhan ekonomi ini merupakan contoh terbaik dari apa yang diistilahkan sebagai 'teori modernisasi.

     Menjelaskan tentang masalah pertumbuhan ekonomi dan modernisasi, Rostow kemudian menjelaskan tentang adanya tahap-tahap linear pertumbuhan ekonomi. Tahap-tahap pertumbuhan ekonomi yang linear (mono-economic approach) inilah yang menjadi syarat pembangunan untuk mencapai 'status lebih maju'. Rostow membagi proses pembangunan ke dalam lima tahapan yaitu:
1.    Tahap masyarakat tradisional (the traditional society), dengan karakteristiknya:
a.    Pertanian padat tenaga kerja;
b.    Belum mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi (era Newton);
c.    Ekonomi mata pencaharian;
d.    Hasil-hasil tidak disimpan atau diperdagangkan; dan
e.    Adanya sistem barter.

2.    Tahap pembentukan prasyarat tinggal landas (the preconditions for takeoff),
yang ditandai dengan:

a.    Pendirian industri-industri pertambangan;
b.    Peningkatan penggunaan modal dalam pertanian;
c.    Perlunya pendanaan asing;
d.    Tabungan dan investasi meningkat;
e.    Terdapat lembaga dan organisasi tingkat nasional;
f.    Adanya elit-elit baru;
g.    Perubahan seringkali dipicu oleh gangguan dari luar.

3.    Tahap tinggal landas (the take-off), yaitu ditandai dengan:
a.    Industrialisasi meningkat;
b.    Tabungan dan investasi semakin meningkat;
c.    Peningkatan pertumbuhan regional;
d.    Tenaga kerja di sektor pertanian menurun;
e.    Stimulus ekonomi berupa revolusi politik,
f.    Inovasi teknologi,
g.    Perubahan ekonomi internasional,
h.    Laju investasi dan tabungan meningkat 5 - 10 persen dari
i.    Pendapatan nasional,
j.    Sektor usaha pengolahan (manufaktur),
k.    Pengaturan kelembagaan (misalnya sistem perbankan).

4.    Tahap pergerakan menuju kematangan ekonomi (the drive to maturity), ciri-cirinya:
a.    Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan;
b.    Diversifikasi industri;
c.    Penggunaan teknologi secara meluas;
d.    Pembangunan di sektor-sektor baru;
e.    Investasi dan tabungan meningkat 10 - 20 persen dari pendapatan nasional.

5.    Tahap era konsumsi-massal tingkat tinggi (the age of high mass-consumption) dengan:
a.    Proporsi ketenagakerjaan yang tinggi di bidang jasa;
b.    Meluasnya konsumsi atas barang-barang yang tahan lama dan jasa;
c.    Peningkatan atas belanja jasa-jasa kemakmuran.

     Menurut Rostow, dalam hal mengenai perubahan dari tahap tradisional ke arah industrial sebagai syarat pembangunan dan kemajuan, pembangunan ekonomi atau proses transformasi masyarakat dari tahap tradisional menjadi masyarakat modern merupakan suatu proses yang multi-dimensional. Pembangunan ekonomi bukan berarti perubahan struktur ekonomi suatu negara yang ditunjukkan oleh menurunnya peranan sektor pertanian dan meningkatnya peran sektor industri saja.

      2.4. Modernisasi, Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan
     Konsep modernisasi  pertumbuhan ekonomi (Pembangunan) menjadi penuh kontroversial dalam teori-teori sosial dan poskolonial kontemporer. Sebelumnya, hampir semua teori sosial klasik abad 19 mempertentangkan masyarakat modern dan pra-modern. Durkheim pada perbedaan antara solidaritas organis dan mekanis, Weber menteorikan perkembangan rasionalisasi, dan Max mengkaji transisi feodalisme ke kapitalisme.
 Masing-masing ahli teori sosial tersebut menggunakan model pembangunan linear. Misalnya, transisi masyarakat pedesaan ke masyarakat urban, dari feodal ke kapitalis, dari agraris ke industri, dari irasional ke rasional, dan dari tradisi ke modern. Masalah yang muncul adalah pada bayangan negara berkembang tentang masa depan mereka yang mengacu pada modernisasi Barat/Eropa.

     Model linear ini "diresmikan" pasca-1945, ketika era kekaisaran runtuh dan teori sosial ideologis berhasrat untuk menghindarkan penyebaran komunisme. Beberapa teori sosial yang muncul waktu itu secara eksplisit berhubungan dengan pembangunan. Pembangunan diteorikan sebagai proses di mana masyarakat terbelakang Dunia Ketiga akan mencapai kemajuan sebagaimana di Barat melalui proses modernisasi.

 Sehingga, modernisasi dan pembangunan dua hal yang berkaitan erat. Beberapa tokoh ilmu sosial menjelaskan tahapan modernitas Barat melalui teori modernisasi, misalnya Walt Rostow, Shmuel Eisenstadt, David McClelland, dan Bert Hoselitz. Teori-teori sosial tersebut didominasi oleh pemikiran sosiologi Barat pada tahun 1950-an dan awal 1960-an.

     Namun, ada pula yang berbeda pandangan mengenai proses modernisasi tersebut. Mengikuti argumen Marx, Andre Gunder Frank dan Immanuel Wallerstein berpendapat, kegagalan modernisasi dan pembangunan di Dunia Ketiga merupakan dampak dari tindakan negara-negara maju. Tetapi, teori sistem dunia dan negara terbelakang juga memiliki persoalan, di mana asal-usul pembagian antara pusat dan pinggiran tidak dijelaskan dengan baik. Sebaliknya, ketika teori-teori tersebut membicarakan persoalan pusat dan pinggiran, pembahasan selalu mengarah pada persoalan ekonomi-politik dan eksploitasi terhadap negara berkembang serta pemusatan konsentrasi perdagangan dan investasi di negara maju yang berdampak pada marginalisasi negara-negara pinggiran.

     Namun, teori-teori sosial kontemporer justru berpandangan pesimis ketika dikatakan bahwa modernisasi dan pembangunan memperlihatkan kemajuan. Dasar beberapa teori ini mengacu pada teori sosial klasik, misalnya rasionalisasi Weber, Anomi, dan alienasi. Teori sosial kontemporer melihat bahwa modernisasi memunculkan Eropasentrisme dalam pembangunan dam ilmu pengetahuan. Beberapa persoalan yang muncul oleh dampak modernisasi dan pembangunan menjadikan alasan mengapa tema modernisasi dan pembangunan menjadi signifikan dalam ilmu sosial kontemporer sekarang ini.

D. Masalah Pokok Ekonomi Modern
Masalah ekonomi muncul karena perhimpunan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas, melawan sumber daya yang terbatas. Masalah ekonomi tersebut pada akhirnya mendorong manusia untuk berfikir dan bertindak kreatif.

Dalam cara bagaimana menggunakan sumber-sumber ekonomi yang terbatas jumlahnya. Untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia dengan sebaik-baiknya dalam hidupnya. Cara menyikapi berbagai pilihan kebutuhan dapat digunakan tindakan yang rasional, yaitu prinsip ekonomi.

Yang artinya berusaha dengan alat yang tersedia atau terbatas, untuk memperoleh hasil sebesar-besarnya. Pada saat ini, tingkat kemajuan sebagian besar penduduk di bumi ini sudah berada di taraf modern. Yang dimana kebutuhan hidup semakin banyak, sedangkan sumber daya yang tersedia semakin menipis.

Maka, hal inilah yang mengakibatkan munculnya masalah ekonomi modern. Yang pastinya jauh berbeda dengan corak permasalahan dalam masa ekonomi klasik. Masalah ekonomi ini terbagi menjadi dua, yaitu modern klasik. Dibawah ini saya akan menjelaskan masalah-masalahnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, kehidupan di bumi ini semakin modern masyarakatnya. Maka kebutuhannya juga semakin banyak dan kompleks. Adapun masalah pokok dalam ekonomi modern meliputi beberapa pertanyaan.

1. Barang Apa yang Akan Diproduksi dan Berapa Banyak (What)?

Masalah ini berkaitan dengan persoalan jenis, jumalah barang dan jasa yang dibutuhkan. untuk diproduksi demi memenuhi kebutuhan masyarakat.
Menentukan apa yang akan diproduksi merupakan masalah utama dan sangat penting dalam ekonomi. Masalah ini tak lepas dari persediaan jumlah sumber daya yang terbatas. Sedikit saja kesalahan dalam penetuan tersebut, menjadi salah satu penyebab pemborosan sumber daya.

Masalah tersebut menyangkut dengan persoalan jenis, jumlah barang dan jasa yang perlu diproduksi. Agar sesuai dengan yang dibutuhkan masyrakat disuatu daerah atau global.
Untuk menentukan dengan tepat dan pasti apa yang akan diproduksi oleh suatu negara. 

Terutama bagi para produsennya harus mempertimbangkan dua hal-hal berikut :

A. Menentukan Barang dan Jasa Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Masyarakat

1. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan pokok demi kelangsungan hidup
Kebutuhan pokok manusia meliputi pangan, sandang dan papan. Kebutuhan inilah yang wajib dipenuhi sehingga produsen harus memproduksinya demi kelangsungan hidup semua manusia. Cobalah bayangkan jika tidak ada seorang produsen atau petani yang tidak mau menanam pati dan gandum.

2. Sifat Manusia yang selalu kurang puas
Sifat yang selalu kurang puas akan memunculkan kebutuhan baru. Misalnya yang kurus ingin gemuk dan yang gemuk ingin kurus. Sehingga memunculkan kebutuhan obat pelangsing dan penggemuk. Dengan memperhatikan sifat ini, produsen dapat memutuskan barang apa yang perlu dibuat.

3. Rasa ingin tahu manusia (Kepo)
Manusia memang mempunyai rasa ingin tahu tentang apa yang tidak di ketahui. Rasa ingin tahu itu dapat mendorong manusia ntuk menciptakan segala alat untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Misalnya rasa ingin tahu manusia untuk mendaki Puncak Gunung. Sehingga produsen membuatkan alat panjat tebing untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia.

4. Keinginan untuk mempermudah pekerjaan
Manusia memang selalu ingin mempermudah pekerjaanya. Pada zaman dulu, pergi ke tempat lain manusia harus berjalan kaki. Agar lebih cepat dan nyaman manusia membutuhkan kendaraan, sehingga produsen menciptkan sepeda, mobil dan jenis transportasi lainnya.

5. Sifat suka meniru
Akibat dari melihat tingkah laku dan gaya hidup orang lain, baik itu dari TV, Majalah atau di kehidupan nyata. Sehingga mengakibatkan manusia cenderung untuk menirunya, seperti meniru dalam gaya busananya artis idola.

Sifat suka meniru dapat mendorong munculnya kebutuhan baru. Dengan mengetahui sifat ini perancang busana akan lebih mengetahui barang dan jasa apa yang dibutuhkan.

B. Memastikan Bagaimana Tingkat Ketersediaan Sumber Daya untuk Memproduksi Barang dan Jasa yang Dibutuhkan?

Setelah mengetahui lima faktor yang bisa menimbulkan kebutuhan manusia akan barang dan jasa. Sehingga produsen harus mempertimbangkan tingkat ketersediaan sumber daya yang ada. Karena sumber daya bersifat langka dan penggunaannya bersifat alternatif.
Produsen harus menentapkan pilihannya untuk memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat. Jangan sampai barang kebutuhan sekuler melimpah, tetapi barang kebutuhan primer sulit dijumpai. Maka dari itu, bertukar informasi dan pembagian kerja antar produsen penting untuk dilakukan.

2. Bagaimana Cara Memproduksi Barang Tersebut (how)?

Setelah produsen sudah menentukan apa yang akan diproduksi, langkah selanjutnya adalah memikrkan bagaimana cara memproduksinya. Cara memproduksi sangat berhubungan dengan mengkombinasikan sumber daya atau faktor produksi yang dibutuhkan untuk memproduksi barang.
Untuk menentukan cara produksi mana yang sesuai, produsen perlu mempertimbangan aspek efisiensi atau penghematan. Penghematan bisa dilakukan, misalnya dengan mencari bahn baku yang murah tetapi barangnya tetap berkualitas.
Selain itu, menggunakan mesin-mesin modern juga perlu di pertimbangkan. Apabila permintaan sedikit, penggunaan mesin modern pasti belum diperlukan. Kemudian perlukah pengkhususan pembagian kerja dalam berproduksi?
Dan apakah tidak sebaiknya menggunakan cara produksi yang padat karya, untuk mengurangi pengangguran? Apakah cara memproduksinya bisa menyebabkan pencemaran lingkungan? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang wajib dijawab produsen dalam memilih cara berproduksi.

3. Siapa Pelaku Produksi (Who)?

Di zaman modern, pastinya banyak pihak yang bisa melakukan produksi. Misalnya dari pihak pemerintah, swasta, individu atau koperasi. Maka inilah salah satu bentuk modernisasi yaitu spesialisasi. Spesialisasi berarti setiap pihak mempunyai ketrampilan dan keahlian khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain.

4. Untuk Siapa Barang-barang Tersebut Diproduksi (For Whom)?

Produksi barang dan jasa dilakukan tidak hanya untuk konsumen yang akan mengonsumsi barang dan jasa. Sehingga masih banyak pihak lain yang diuntungkan dalam kegiatan produksi. Dengan adanya produksi, buruh pekerja akan menerima upah, pemilik bahan baku akan menerima uang penjualan bahan baku.
Pemilik gedung dan tanah akan menerima uang sewa, dan pengusaha akan menerima laba dari penjualan produknya. Jadi, yang dimaksud dengan untuk siapa barang tersebut diproduksi sangat berhubungan dengan siapa saja yang menikmati pendapatan dari kegiatan produksi.

Hal ini juga berkaitan dengan bagaiman cara mendistribusikan hasil tersebut secara adil agar tidak terjadi kesenjangan dan kecemburuan antar pemilik produksi.
Di Indonesia sendiri, sudah ada yang mengatur dalam cara memberi upah tenaga kerja. Sehingga dianggap adil, yaitu dengan menetapkan UMR (Upah Minimum Regional) disetiap daerah. Upah minimum regional disetiap daerah ini berbeda-beda. Kalau di kota besar UMR nya lebih besar di banding sama kota kecil. Contoh UMR Kota Jakarta lebih tinggi dari pada Kota Kudus.

Empat masalah diatas dapat diringkas menjadi satu masalah inti yang disebut masalah ekonomi. Untuk memecahkan keempat masalah pokok ekonomi tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara. Diantaranya kebiasaan, tradisi, insting dan paksaan atau perintah.
Padahal bagi masyarakat modern, pemecahan masalah mengandalkan mekanisme harga di Pasar. Adapun metode harga itu sendiri adalah proses yang berjalan atas dasar daya tarik-menarik antara konsumen dengan produsen yang bertemu di Pasar.

E. Contoh Masalah Ekonomi Modern Dalam Kehidupan Sehari Hari:

1. Energi dan Keamanan Lingkungan

Keamanan energi dan lingkungan telah muncul sebagai masalah utama dalam agenda global untuk beberapa tahun terakhir. Konsensus baru-baru ini telah ditempa pada potensi ekonomi jangka panjang, keamanan nasional dan kerusakan masyarakat dari pasokan energi yang tidak aman dan bencana lingkungan, serta kebutuhan yang kuat. untuk kemajuan teknologi yang dapat memberikan sumber energi yang rendah polusi dan aman. Namun meskipun ada momentum global yang berkembang, masih ada sedikit kesepakatan tentang serangkaian tindakan terbaik yang diperlukan untuk mengurangi ketergantungan global pada bahan bakar fosil dan emisi gas rumah kaca. Membingungkan tantangan kebijakan internasional adalah dampak yang tidak proporsional dari harga minyak yang tinggi dan pemanasan global di seluruh negara, mengisolasi beberapa negara dari keprihatinan segera sambil memaksa yang lain menekan untuk perubahan yang lebih cepat.

2. Konflik dan Kemiskinan

Di dunia di mana batas-batas dan perbatasan telah kabur, dan di mana ancaman yang tampaknya jauh dapat bermetastasis ke dalam masalah segera, perjuangan melawan kemiskinan global telah menjadi perjuangan untuk keamanan global. Para pembuat kebijakan, yang secara tradisional telah melihat ancaman keamanan karena melibatkan peluru dan bom, semakin terfokus pada hubungan antara kemiskinan dan konflik: Seperti kasus Pentagon 2006 Pertahanan Ulasan Quadrennial berfokus pada memerangi "perang panjang," menyatakan bahwa militer AS memiliki peran kemanusiaan dalam "meringankan penderitaan,? mencegah gangguan dari spiral menjadi konflik atau krisis yang lebih luas. "

3. Bersaing di Era Baru Globalisasi

 Apakah episode baru globalisasi hanya gelombang lain atau pergeseran seismik? Sementara elemen individu terasa akrab, kontur kombinasi belum pernah terjadi dalam skala, kecepatan, dan cakupan. Ada banyak dampak dan contoh masalah ekonomi modern dalam kehidupan sehari hari tertutama masalah poersaingan yang kian meningkat dnegan adanya era globalisasi ini seperti konsep ekonomi makro.

4. Ketidakseimbangan global

Dunia yang saling terhubung saat ini berada di wilayah yang belum dipetakan: kekuatan hegemonik tunggal di dunia, Amerika Serikat, perawat kecanduan modal asing, sementara kekuatan yang terus meningkat seperti Cina dan eksportir minyak mempertahankan surplus peningkatan besaran. Beberapa khawatir bahwa dunia berada pada titik kritis, di mana hanya perubahan dramatis dalam kebijakan ekonomi yang dapat mengubah lintasan yang membayang. Yang lain melihat faktor struktural yang mendasari mengabadikan ketidakseimbangan dalam periode yang berkelanjutan.

                                                               BAB III
                                                             PENUTUP
                                                           KESIMPULAN

Modernization bermakna melakukan formulasi ulang sesuatu yang asalnya primitif atau tradisional, menuju kondisi yang lebih baik secara fisik. Pengertian ini menekankan adanya perubahan atau pertambahan bentuk fisik dari kondisi asalnya.

Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan (Ingg: scarcity).
Kata "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani ????? (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan ????? (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja.

Sistem ekonomi modern sendiri mengacu pada perkembangan negara maju Eropa Barat, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Jepang.

Pertumbuhan ekonomi terjadi berdasarkan peningkatan kemampuan penduduk dalam jangka panjang. Kemampuan yanh dimaksud adalah dalam hal penyediaan barang secara terus-menerus. Kemampuan ini berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi, dan penyesuaian dengan kelembagaan dan ideologis yang diperlukan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar