KONFLIK PAPUA TERLENGKAP

                                                                      Konflik Papua






Pernah gak mereka mengutuk OPM yang memanfaatkan masalah rasis ini? Pernah gak mereka mengutuk orang yang menghina mahasiswa papua? Pernah gak mereka melarang pendukung Hizbut Tahrir menyalahkan jokowi?

Karena yang membuat masalah kan bukan Jokowi? Anehnya mereka malah ikut menyalahkan Jokowi.

Yang menghina mahasiwa Papua adalah orang kelompok sebelah, yang dihina bereaksi. Lalu ada kelompok teroris memanfaatkan hal ini.

Sekarang kelompok sebelah menyalahkan Jokowi dan menuntut Jokowi harus begini dan begitu.
Pertanyaannya, pernah gak melihat mereka salahkan yang membuat masalah dan kelompok teroris? Ngak kan?

Bukan Jokowi yang membuat masalah, bukan Jokowi yang memanasi masalah, bukan Jokowi yang memanfaatkan masalah, tapi Jokowi yang disalahkan. Tidak ada dari mereka yang menyalahkan para pihak yang melakukan dan membuat masalah. Mereka malah memframing semua masalah ini adalah salah Jokowi.

Tujuannya sudah jelas, mereka ingin Jokowi tidak dilantik sebagai Presiden 2019-2024, makanya tidak heran kalau mereka menyalahkan Jokowi, tapi tidak pernah menyalahkan yang melakukan kejahatan.

Framing dibuat bahwa Jokowi lemah karena tidak mampu hadapi dan menyelesaikan masalah Papua, maka Jokowi tidak layak sebagai presiden.

Memang benar, bahwa sebagai Presiden, Jokowi harus bertanggungjawab agar bangsa ini tidak terjadi huru-hara. Makanya Jokowi sudah mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah ini, beliau punya cara menyelesaikannya dan beliau sedang melaksanakan proses penyelesaian itu.
Tapi mereka malah mendesak Jokowi harus begini dan begitu menurut cara mereka lalu memframing bahwa Jokowi lemah, seolah-olah Jokowi tidak melakukan apa-apa untuk menyesaikan masalah. Untungnya Jokowi bukan Presiden bodoh yang mau terjebak permainan mereka.

Salah satunya adalah, menyuruh Jokowi untuk datang sekarang ke Papua, tentu ini bagian dari strategi untuk membesar-besarkan masalah yang tidak besar awalnya. Jadi ketika selesai Jokowi berkunjung ke sana, lalu masih ada gejolak, maka dengan mudah menuding Jokowi Presiden gagal.
Tentu kalau orang awam pasti berpikir oh iya, Jokowi harus segera datang ke Papua. Padahal itu jebakan untuk menguatkan framing bahwa Jokowi lemah. Setelah Jokowi datang ke Papua, mereka buat keributan lagi, sehingga framingnya jelas, Jokowi sudah tidak lagi dianggap rakyatnya. Ucapan Jokowi sudah tidak dianggap rakyat. Ini jebakan..

Simple saja.., yang menghina mahasiswa Papua, diproses hukum. Yang bawa bendera OPM, diproses hukum. Yang anarkis, diproses hukum. OPM ditembak. Jadi biarkan aparat dan hukum menjalankan tugasnya, ini bukan kasus kedaulatan, ini kasus penghinaan dan penumpang gelap.

Urusan segelintir orang bawa bendera OPM, ya urusan aparat hukum. Urusan penghinaan, urusan aparat hukum. Urusan buat kerusuhan, urusan aparat hukum, bukan urusan Presiden. Ini tindak pidana biasa, tapi dibuat seolah-olah tidak biasa untuk menjebak Jokowi.

Sekali lagi, Jokowi bukan Presiden bodoh, dia tahu kapan harus ke papua dan kapan tidak. Yang bodoh adalah yang membuat strategi ini. Gak kapok-kapok, semua strategi mereka selama ini dengan mudah dipatahkan oleh Jokowi. Kok gak belajar dari pengalaman ya?

Makanya strategi yang mereka buat tidak pernah berhasil, karena mereka tidak pintar menyembunyikan diri. Begitu telanjang menampakkan diri menyerang Jokowi, tapi mereka lupa untuk menyerang kelompok rasis, kelompok teroris dan kelompok yang berbuat anarkis agar terlihat natural. Padahal yang membuat masalah bukan Jokowi

Jadi sangat jelas ya arahnya. Sayang mereka tidak cukup pintar membuat strategi sehingga begitu tampak tujuan mereka mau menggagalkan Jokowi dilantik sebagai Presiden 2019-2024.
Selalu ada sisi positif dari setiap kejadian. Dalam peristiwa paling buruk sekalipun tetap ada sisi baik yang menyertai. Semakin berat masalah, makin besar pula potensi hikmahnya. Besarnya masalah sama dengan besaran potensi hikmahnya.

Tak terkecuali masalah-masalah yang melanda Indonesia akhir-akhir ini. Dari rusuh-rusuh di Pemilu seperti di kasus 22 Mei. Soal ceramah ustad yang menodai toleransi. Hingga demo-demo anarkis di Papua itu pun pasti bersama hikmahnya. Persolannya sekarang, mampukah pihak-pihak terkait memetik hikmahnya?

Bicara soal kasus Papua ini memang complicated. Tak sesederhana yang diberitakan media dan yang dikemukakan para politisi, pejabat terkait, maupun para aktivis yang terlibat. Masalah Papua yang sebenarnya sudah ada sejak lama itu ibarat api dalam sekam. Baranya memang tak tampak tapi terus terbakar di dalam.

Karena itu terlepas dari apa dan siapapun penyebabnya, yang pasti dan tak dapat dipungkiri adalah bara tersebut sudah menyala, menjadi api yang membara, membumbung tinggi hingga bisa dilihat dengan jelas, bahkan dari kejauhan. Bahwa Papua sebenarnya masih menyimpan bara masalah yang sewaktu-waktu bisa dibesarkan. Dan inilah yang harus segera dipadamkan bukan hanya di permukaan, tapi hingga ke bagian yang paling dalam.


Saat bara di Papua sudah menjadi api yang menyala-nyala, kita semua bisa melihat, siapa pihak yang berupaya memadamkan, siapa yang membiarkan - acuh tak acuh tak mau peduli, dan siapa saja yang justru membuat api itu membesar dengan mengipasi dan menambah bahan bakarnya.
Dengan kacamata awam yang kita punya pun sudah bisa terlihat. Hanya saja penuh keterbatasan. Jarak jangkau dan kualitas kacamata kita tak dikhususkan untuk melihat, membaca, dan menganalisanya . Tapi tentu berbeda dengan yang dimiliki pemerintah. Yang dipakai oleh aparat TNI-POLRI kita. Kacamata BIN dan intelijen lainnya memang dikhususkan untuk deteksi itu.

Maka ketika Menkopolhukam Wiranto mengatakan sudah mengetahui penumpang gelap di kasus Papua beberapa waktu lalu, saya pun turut merasa lega. Kecemasan Papua terus membara terjawab sudah. Apalagi Presiden juga menyatakan hal yang sama. Penumpang gelap sudah terdeteksi, yang artinya, aparat keamanan sedang bersiap mengeksekusi. Atau bahkan sudah dalam proses eksekusi, hanya saja mungkin tak baik jika dibuka ke publik.

Penumpang gelap yang dimaksud adalah pihak-pihak yang memperbesar nyala api dengan mengipasi dan menambah bahan bakarnya. Kembali dengan penglihatan awam kita. OPM dan jaringan luar negerinya tampak sebagai penumpang gelap itu. Samar-samar tampak juga komplotan Islam garis keras eks HTI dan sejenisnya juga menyusup. Pun beberapa politisi terlihat tak mau ketinggalan memanaskan suasana.

Aparat keamanan kita yang kacamatanya jauh lebih spesial itu tentu lebih detil lagi hasil penglihatan dan analisanya. Mereka yang sudah terseleksi dengan kecerdasan dan integritas tinggi itu pun tentu sudah sangat paham tentang management conflict dan problem solving.

Mengatasi Masalah Papua sekarang ini tentu tak hanya menghentikan aksi-aksi anarkis demonstran dan menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan di sana. Sebab bagaimanapun masalah Papua adalah masalah Indonesia. Karena itu bara api yang di dalam sekam harus dipadamkan. Menyelesaikan masalah yang mendasar yang sejak lama ada dan sewaktu-waktu bisa dibesarkan.

Lebih luas lagi tentang keterlibatan Islam garis keras eks HTI dan sejenisnya itu. Yang bisa disebut masalah terbesar bangsa dan negara ini. Cukup logis jika kelompok tersebut juga menyusup sebagai penumpang gelap di kasus Papua. Sebab track record mereka memang selalu buat gara-gara. Selalu menciptakan kerusuhan dengan harapan adanya instabilitas dan mereka bisa menawarkan solusi khilafah-nya yang sejak lama dijajakan.

Komplotan ini tentu jadi perhatian khusus, masuk dalam radar yang akan atau sedang dalam proses eksekusi oleh pemerintah melalui aparat keamanan. Gerombolan eks HTI dan yang sejenis lainnya itu tak bisa lagi dibiarkan berkeliaran, apalagi sudah berani terlibat di kasus Papua sebagai penumpang gelap yang memanasi, mengipasi, dan membesarkan nyala api. Sudah saatnya mereka dihabisi.

Itulah sebagian hikmah yang terbaca dan bisa dipetik dari kasus Papua. Tentu masih banyak hikmah lainnya yang bisa dirasakan bersama, khususnya oleh warga Papua. Sementara yang terlihat dari sini adalah meningkatnya rasa nasionalisme mereka. Rasa cinta pada tanah air dan Ibu Pertiwinya semakin tinggi. Merah putih makin banyak dikibarkan pasca kerusuhan. Dan banyak diantara mereka yang sadar sudah dibohongi atau diprovokasi saat melakukan demo anarkis. Mereka juga berjanji tidak akan rusuh lagi.

Indonesia dalam perjalanan menuju puncak jayanya. Banyak pihak yang tidak nyaman serta terusik menyaksikannya. Karenanya badai rintangan selalu ada menyertai. Tapi sejauh ini semua bisa dilewati dengan tetap tegar dan optimis, serta makin penuh percaya diri.

Merdeka!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar